Website dalam tahap dikembangkan! Pantau perkembangannya klik disini Sahabat

Mari Menertawakan Kehidupan

Mari Menertawakan Kehidupan Facebook Twitter WhatsApp

Foto prosesi pertunangan seorang sahabati (31/5/2020), tiba-tiba mengingatkanku pada sosoknya. Ia perantau yang datang jauh-jauh dari tanah Batak Sumatera Utara untuk menuntut ilmu di UINSA Surabaya. Ia sempat membuatku tertawa ketika dalam sesi kelas ma'had sore mengajukan pertanyaan tentang bagimana hukum seorang mayit yang sudah terbungkus kain kafan dan siap dibaringkan di liang lahat tiba-tiba keceret. Tentu seisi kelas menertawakan pertanyaan itu, seraya bergumam : "kok bisa-bisanya menjelang bertemu dengan kedua malaikat dan menjawab pertanyaan kubur, si mayit sempat bercanda".

 

Itu kenangan sewaktu ia masih semester awal. Ia begitu mudah menertawakan kehidupan bahkan masih menyempatkan bertanya hal yang mustahil terjadi dan membuat teman lain gagal membendung tawa. Lama tidak mengirim berita, ia muncul dengan tampilan baru. Menulis martabak malaikat pada gerobak dorong yang menjajakan terang bulan dan martabak. Ia menabalkan nama hamba yang taat itu untuk melawan dominasi nama-nama makhluk durhaka pada jajanan semisal setan, gendruwo, mak lampir dan lain-lain. Lagi-lagi orang yang berlalu lalang dan pelanggan pasti tertawa membaca tulisan itu. Begitu mudah menertawakan kehidupan. Walaupun namanya usaha jualan, tentu butuh keuletan, kesabaran, dantdan ekstra. Semua beban itu dikelola menjadi bahan tertawaan.

 

Tapi, apakah postingan prosesi itu mampu membuatnya kreatif menertawakan kehidupan. Kayaknya rada sulit. Jalinan cerita yang sudah terukir beberapa tahun terakhir nampaknya sulit dilupakan. Ada banyak kenangan manis yang sudah dipahat. Ada banyak nama jalan, pertigaan, perempatan, kelokan, tanjakan, turunan yang sudah ditelusuri mulai kampus UINSA hingga wisata air panas Pacet Mojokerto. Mau bukti? Ia baru mengucapkan selamat setelah lama namanya dipanggil sahabat-sahabati untuk segera merespon. Ketika mendoakan pun ia terlihat kaku, formal, hal yang jauh berbeda dari kesan yang selama ini sudah dibangun. Ketika beberapa sohib menyudutkan, ia berkali-kali mengatakan "sebagai lelaki masih mudah mencari yang lain." Jawaban itu terulang beberapa kali. Ia gagal menunjukkan kreativitasnya dalam menelorkan istilah-istilah baru.

 

Apapun kondisimu sahabat saya tetap berharap engkau seperti yang dulu, bisa menertawakan kehidupan. Engkau tidak sendiri. Banyak seniormu yang mengalami hal serupa bahkan lebih tragis lagi. Toh nyatanya, mereka adem ayem dengan yang "baru". Anggap saja cerita masa lalumu sebagai pemanis kehidupan. Sebagai bekal cerita kepada anak cucumu kelak, bahwa "aku juga sempat menjadi lelaning jagat, Arjuna Mencari Cinta." Yang paling penting dari itu semua, sewaktu-waktu mesin waktu menjatuhkanmu di Mojokerto, engkau tidak akan kesasar lagi karena sudah hafal betul mulai jalan besar hingga jalur tikus.

 

Akhirnya selamat menertawakan kehidupan mas. Senyum donk! Tunjukkan dirimu tabah menerima kenyataan.

 

(Cak Kaji Tole)

Komentar Sahabat/i :


©2017-2018 PMII Surabaya Selatan.