Website dalam tahap dikembangkan! Pantau perkembangannya klik disini Sahabat

Selamat Hari Pendidikan Nasional, Apanya yang Selamat?

Selamat Hari Pendidikan Nasional, Apanya yang Selamat? Facebook Twitter WhatsApp

Hari Pendidikan Nasional atau disingkat HARDIKNAS ialah momentum dimana mulai dari punggawa pendidikan, pelajar, hingga akademisi pun semua ikut berantusias dan menyapa Hari Pendidikan Nasional ini.

Tepat pada tanggal 2 Mei 2020 HARDIKNAS diperingati, sembari sekarang bertepatan dengan saat menunaikan ibadah puasa ditengah-tengah pandemi COVID-19 ini, antusiasme masyarakat terhadap pendidikan ternyata besar.

Berbicara antusiasme terhadap pendidikan memang bagus dan itu sewajarnya dilakukan oleh seluruh masyarakat di Indonesia.

Namun apakah hanya bermodalkan ucapan selamat atau sejenisnya dapat dikategorikan ia menjadi pemerhati pendidikan? Terlalu jauh memang konteks ini dibahas, namun ada baiknya jika masyarakat Indonesia seiring berjalannya waktu mulai paham dan tersadarkan.

Memang benar pendidikan yang digadang-gadang menjadi teropong dan untuk menyongsong masa depan, kini tak ubahnya hanya menjadi komoditas perdagangan.

Apalagi jika kita menengok ke arah perguruan tinggi, lebih suram dari ‘Black Market’ (Pasar Gelap) karena yang mereka jual bukan lagi barang, melainkan manusia yang dicetak menjadi manusia yang siap dikontrol dengan diberi label ‘Mahasiswa’ kemudian ditawarkan pada era globalisasi saat ini.

Pendidikan seakan-akan menjadi tempat yang cocok untuk melanggengkan bisnisnya, itu merupakan sisi lain penyakit yang masih mencolok diantara banyaknya penyakit di dunia pendidikan kita di Indonesia.

Padahal, dengan jelas perjuangan bapak pendidikan kita, tak lain ialah Ki Hadjar Dewantara yang semula pendidikan itu hanya ditempuh oleh bangsa kolonialisme, keluarga-keluarga ningrat, dll, hingga bagaimanapun caranya pendidikan harus ditempuh oleh seluruh rakyat di Indonesia. Malah di era saat ini sangatlah terbalik, dan mengulang seperti zaman kolonialisme dulu.

Ucapan selamat seakan-akan memberikan kesan bahwasannya pendidikan di Indonesia sudah berhasil, sudah mencapai puncaknya, dll.

Selain meski bukan begitu, bila ucapan selamat itu ditujukan kepada para pahlawan nasional yang berjuang demi pendidikan, maka agak dikatakan layak.

Namun bukankah penghormatan seperti itu layak ditujukan pada saat momentum Hari Pahlawan Nasional?

Bagaimanapun jika ucapan selamat itu diperuntukkan untuk HARDIKNAS sangatlah kurang tepat, mengingat penyakit di dalam dunia pendidikan kita belum sepenuhnya terselesaikan.

Momentum HARDIKNAS seperti ini sewajarnya di kombinasikan dengan celetukan perhatian melalui pelaku pendidikan, pemerhati pendidikan, hingga pemerintah.

Bagaimana upaya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang masih eksis di dalam dunia pendidikan kita. Tentu antusiasme ini menuntun kepada kita semua untuk masih tetap melakukan perjuangan terhadap dunia pendidikan kita.

Layak memang jika HARDIKNAS seperti ini dimanifestasikan pada sebuah ide, gagasan, dalam sebuah kegiatan yang mendukung tercapainya tujuan mulia dari pendidikan kita itu sendiri.

Mengingat perjuangan bapak pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara begitu sangat powerfull dalam menjunjung tinggi cita-cita bangsa untuk mengenyam pendidikan, dan sampai saat ini pun masih dirasa belum terwujud.

Maka dengan demikian, sebagai warga negara yang sangat prihatin kepada dunia pendidikan kita dewasa ini haruslah juga melanjutkan sebuah perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulu.

Untuk itu, merubah sebuah antusiasme dengan ucapan selamat akan lebih baiknya lagi jika terus sembari melakukan perjuangan untuk mewujud cita-cita dari sebuah pendidikan yang sebenarnya saat ini belum terwujudkan.

#haripendidikannasional #haridiknas #pedulipendidikan #panjangumurpendidikan

Penulis: Kader Rayon Averouce

Komentar Sahabat/i :


©2017-2018 PMII Surabaya Selatan.