Website dalam tahap dikembangkan! Pantau perkembangannya klik disini Sahabat

Neraca Pandemi 1 Mei (Hari Buruh Internasional)

Neraca Pandemi 1 Mei (Hari Buruh Internasional) Facebook Twitter WhatsApp

Selamat hari buruh sedunia: Omnibus ditunda, covid bawa bencana, unjuk rasa lewat media

'Over Work Under Paid' istilah yang paling dikenal kaum buruh membuat segelintir orang terenyuh mendengarnya. Teriakan adil dari kaum buruh hanya di anggap sebuah batu kecil yang tak terlihat. Menyuarakan kebenaran hanya dianggap seperti awan berarak yang numpang lewat. Kata adil dari para majikan hanyalah sebuah permainan. Janji kebenaran para penata bangsa hanyalah omong kosong belaka.

Ditengah pandemi Covid-19 ini, sejumlah buruh lebih memilih untuk melakukan demonstrasi daring (online) untuk memperingati Hari Buruh Sedunia pada tanggal 1 Mei 2020.

Dampak Covid juga menyebabkan banyak perusahaan mengambil kesempatan mem-PHK atau merumahkan pekerja buruh lepas tanpa membayarkan upah.

Belum lagi pemerintah bersikap lunak terhadap perusahaan yang menunda dan mungkin tidak membayarkan THR. Kementerian Tenaga Kerja mencatat ada setidaknya 2,8 juta buruh tercatat di-PHK atau dirumahkan.

Karena buruh selalu dimaknai seperti orang yang di injak-injak dari kebijakan industrialisasi dengan apresiasi yang minim.

Mengutip perkataaan dari Abraham Lincoln, “Buruh lebih penting daripada modal dan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar.” Maka hendaknya kita sebagai rakyat Indonesia, khususnya kepada pemerintah, untuk lebih memperhatikan nasib dari kaum buruh.

Sementara itu pemerintah melarang rakyatnya keluar, tetapi membolehkan TKA masuk. TKI yang ingin pulang ke Tanah Air dipersulit sedangkan TKA masuk ke Indonesia dengan mudahnya. 'TKA datang Luhut senang, rakyat meriang, Buruh kejang-kejang, Negara nambah utang.'

Buruh dan penguasa, rangkaian cerita yang entah kapan akan berakhir atau mungkin tidak akan berakhir. Buruh yang meratapi nasibnya yang terlena dengan rekayasa tatanan yang di buat penguasa. Namun, Penguasa hanyalah berlaga seakan-akan membuat bejana tatanan pekerjaan

Pandemi ini juga menyebabkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) ditunda. Seperti yang sudah kita ketahui, aturan ini langsung memantik polemik dari sejumlah buruh yang di karenakan isinya jelas-jelas merugikan dan kontroversial terutama untuk kaum buruh.

Terus terang saja bahwa RUU ini di anggap menunjukan liberalisasi ekonomi karena adanya deregulasi yang dapat mengurangi hak-hak dari buruh. Omnibus Law memang banyak membahas rakyat, akan tetapi nyatanya banyak yang merugikan rakyat terutama buruh dan pekerja.

Setelah penundaan ini para buruh akhirnya bisa bernafas lega. Namun, kelegaan ini mungkin hanya terjadi saat pandemi saja. Jika pandemi ini berakhir, apakah dijamin mereka masih bisa bernafas lega?

Dikarenakan wabah dan jumlah positif yang semakin merangkak naik, dalam rangka mengaspirasikan dan menuntut hak-hak buruh sebagai desakan aksi via online, para buruh mengajak segenap rakyat membanjiri media sosial dengan tanda pagar (hashtag) #stopPHK, #saveTHR, dan #talangiRakyat

Akan tetapi unjuk rasa via daring ini bisakah menjamin kesejahteraan para pekerja buruh dengan terpenuhi hak-haknya. Ditambah lagi dilema PSBB yang hanya mengamankan hidup para pejabat, militer, PNS, dan yang punya tabungan. Apa kabar para buruh dan para pekerja yang menjadi kepala rumah tangga sehingga setiap harinya dipertaruhkan hanya untuk menghidupi keluarga?

Beberapa gubernur juga meminta agar buruh tak turun ke jalan dan melakukan demonstrasi di rumah masing-masing. Mengaspirasikannya bisa dengan cara mengirim surat atau telepon ke bupati daerah masing-masing. Akan tetapi hal itu bisa jadi hanya untuk meredam dan menutupi dilanjutkannya pengesahan RUU Omnibus Law setelah pandemi dengan mengatasnamakan keselamatan banyak orang.

Tak adanya jaminan kekuatan awak media untuk meruntuhkan rezim sedangkan media dikendalikan oleh para tikus-tikus berdasi. Hanya janji-janji yang selalu diberikan tanpa ada bukti. Negaraku ini sangat lucu.

Sikap tegas Presiden dan Pemerintah diharapkan mampu mengakhiri era stigmatisasi dan diskriminasi terhadap buruh dan dapat mendatangkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat agar ekonomi bangsa ini dapat lebih maju.

Selamat Hari Buruh Sedunia karena perlawanan akan terus ada. Melawanlah sampai hak terpenuhi bukan melawanlah sampai tak ada perlawan. Karena ketika sudah tak ada perlawanan maka perlu dipertanyakan.

Sebuah yel-yel
"Buruh bersatu tak bisa dikalahkan"
Buktikanlah kalau hal itu benar!

Hidup rakyat indonesia!!
Hidup buruh!!!
Hidup mahasiswa!!!
Hidup rakyat yang tertidas!!
Hidup perempuan yang melawan!!

Panjang umur hal-hal baik🌻

Penulis: Sahabati Shavira X sahabat Daffa
Editor: Wn

Komentar Sahabat/i :


©2017-2018 PMII Surabaya Selatan.