Website dalam tahap dikembangkan! Pantau perkembangannya klik disini Sahabat

EMANSIPASI SAAT PANDEMI

EMANSIPASI SAAT PANDEMI Facebook Twitter WhatsApp

Emansipasi yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini adalah perjuangan mewujudkan gender equality. Karena sesungguhnya, tidak hanya perempuan yang terdampak budaya patriarki such as subordination, violence, marjinalisasi terhadap perempuan, perempuan dianggap sebagai second creation. tetapi laki-laki pada saat itu juga memiliki permasalahan yang tidak jauh berbeda. Sebut saja Bapak R.A Kartini Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Dalam buku yang berjudul Kartini: Pribadi Mandiri terdapat satu bab yang berjudul Dilema seorang Ayah.

Sebagai seorang ayah tentu beliau mengingkan putrinya mengenyam pendidikan cemerlang, beliau juga yang membuka pikiran anak-anaknya tentang pentingnya pendidikan, namun disisi lain beliau mendapatkan tekanan dari keluarga dekat, dan juga beberapa pejabat Belanda di Jawa yang memandang negatif pendidikan bagi perempuan, ketidakberdayaan seorang ayah yang dihadapkan pada tradisi telah merampas hak dan memasung cita-cita puterinya.

Dari ketidak berdayaan itu tekad Kartini untuk mewujudkan gender equality dalam pendidikan dan peran publik semakin masif. Kartini telah menjadi simbol perjuangan kesetaraan dalam lini kehidupan dengan mendobrak kungkungan tradisi. Dimana ada nama Kartini yang terlintas adalah emansipasi.

Kartini di tengah Pandemi
Peringatan Hari Kartini tahun ini agaknya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada selebrasi dalam bentuk orasi, tidak ada diskusi, nonton bareng film kartini, event festival perempuan dan tidak ada parade baju kebaya anak sekolah. Ya di Tahun 2020 ini dunia sedang berada dalam kondisi tidak baik.

World Health Organization  (WHO) Badan Kesehatan Dunia sejak tanggal 11 Maret 2020 telah menetapkan wabah Covid-19 Sebagai Pandemi global. Jumlah korban positif virus corona semakin bertambah setiap harinya. Tercatat sampai selasa 21/4/2020 pukul 12.00 WIB. Jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia ada 7.135 Pasien. Hal ini yang mengharuskan kita untuk tetap stay at home dan mengurangi aktifitas di luar rumah untuk untuk mempersempit penyebaran Covid-19.

Social distancing sekarang tidak jauh berbeda dengan keadaan R.A Karitini saat menjalani masa pingitan. Kartini ditempatkan dalam ruangan, tidak boleh ditemui oleh siapapun, apabila ada yang menemui pun harus dengan izin berlapis. Terlebih pingitan bukan dikarenakan wabah penyakit tapi karena adat istiadat. Adat istidat yang tidak memberikan kesempatan bagi para perempuan. Walaupun makanan, pakaian, perhiasan telah dipersiapkan tetapi semua itu tidak dapat menggantikan cita-cita Kartini yakni kebebasan mengenyam pendidikan.

Pingitan membuat Kartini frustasi, ketidak terimaannya terhadap tradisi membuat Kartini menolak banyak pinangan. Sampai disuatu puncak ketidakberdayaannya Kartini mulai menerima keadaan yang menimpanya dengan syarat diperbolehkan untuk membaca buku. Semangat Kartini pulih, jiwanya hidup kembali tekadnya semakin bulat untuk mendekonstruksi adat patriarki.

Pull yourself and stay sane
Merefleksikan nilai-nilai perjuangan R.A. Kartini saat pendemi dapat dilakukan melalui tulisan atau membuat konten kampanye pencegahan covid-19, kita juga dapat berkolaborasi dengan komunitas untuk menyalurkan bantuan kepada golongan rentan ekonomi yang terpapar covid-19. Bukan hal besar memang, setidaknya dalam situasi serba terbatas saat ini kita masih dapat andil memperjuangkan nilai–nilai kemanusiaan.

Keterbatasan saat ini telah menguji kewarasan. Bagaimanapun manusia adalah makhluk social yang butuh emotional support. Memang tidak banyak yang dapat kita lakukan karena terbatasnya ruang tapi kita masih dapat saling menguatkan. The real antidote epidemic is not segregation but rather coorporation. Mengaca dari pengalaman R. A Kartini yang sempat kehilangan kewarasan. penting saat ini ketenangan diri untuk beradaptasi.

Ketenangan diri ini juga yang akan menghindarkan diri dari krisis kesehatan mental, anxiety, depresi, dan cyberbullying bahkan percobaan bunuh diri.  Untuk menjaga kesehatan mental saat pandemi kita dapat melakukan interaksi sosial lewat video call, demi menghindari perasaan terisolasi. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan YME, Menjaga pola makan, berolahraga, dan istirahat yang cukup serta saling jaga untuk tetap #dirumahaja.

Penulis: Alfita Ch. A

Komentar Sahabat/i :


©2017-2018 PMII Surabaya Selatan.