Website dalam tahap dikembangkan! Pantau perkembangannya klik disini Sahabat

Terbesit Dinamika

Facebook Twitter WhatsApp

Tulisan ini hanyalah fiktif  belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan gurau belaka.

Sudah berpuluh tahun lamanya setidaknya di mulai dari periode renaisans bahwa manusia menjadi pusat dan ukuran dari semua ada (being), yang merupakan pintu awal membeludaknya sains dan teknologi pendewaan akan unsur tunggal rasionalitas manusia. Sebagai penyandang gelar sentral desain pembangun megah peradaban dan sebagai sentral pemecah masalah di dunia. Namun memang tidak ada kesepakatan apapun dalam hal ini, masih jauh dari pasti bahwa manusia menginvestasikan upaya sangat besar dalam era suatu zaman selalu teriring dengan sesuatu yang harus ditumbalkan.

Banyak silang pendapat disini bahwa peralihan justru diawali memunculkan masalah baru, mendekontruksi suatu tatanan yang telah mapan untuk menggiring pada impian utopis akan kekuasaan, menyebut bahwa manusia adalah subjek yang merdeka, self determination, dan self affirmation berujunglah pada awal permulaan keterputusasaan bagi mereka yang gagap dalam penyesuaian.

Mengais pemahaman bahwasannya dunia diciptakan oleh rantai peristiwa, menjadi mustahil jika keadaan yang sekarang ini terjadi tanpa suatu sebab permulaan (alamiah) dan tanpa maksud. Pada suatu tempat dan waktu tertentu pun manusia tidak dapat melepaskan diri dari fenomena sejarah. Sebagai contoh: Fenomena yang sedang terjadi saat ini negara kita dan banyak dari negara tetangga bahkan mencakup dalam spectrum global sedang menghadapi masalah yang sama yakni musibah atasnama wabah Covid-19.

Perubahan pola secara paksa merasuk pada kategori mulai dari intitusi global, kontitusi kenegaraan, kebudayaan, ekonomi, pendidikan, dan pola kehidupan keseharian. Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk membonsai kebiasaan mengarah pada kebiasaan yang baru, satu bulan adalah waktu yang cukup untuk siap memulai hidup yang beda.

Dari apa yang berlaku dalam perubahan; tranformasi atau revolusi sosial sejatinya juga berlaku pada level mikro kehidupan kita sehari-hari. Dalam situasi terhimpit sekalipun manusia selalu mencari cara untuk mengatasinya dengan demikian kita harus mencarinya, berproses untuk menjadi (becoming) berdialektika atas pembaruan realitas yang sedang dan akan terjadi. Spirit ini seharusnya tidak boleh tenggelam begitu saja, tidak boleh diam ditempat, akan tetapi selalu berproses gerak kedepan. Dalam ketidak stabilan dan kebosanan yang mengguncang orde yang mapan, samar samar kita menggambar sesuatu yang ada di depan yang belum diketahui.

Semuanya ini adalah petanda perubahan dari sesuatu yang “tengah menjelang” dan kita harus menyikapi insyaf menjadikan citraan cermin (mirror image). Citraan cermin ini adalah istilah yang digunakan oleh paman saya  Habermas untuk menjalaskan proses dialektika, dimana penentuan posisi subjektivitas dalam rentang kejadian sejarah tidak dapat dilepaskan dari apa-apa yang sudah dicapai.
Disini penulis tidak menyebar ketakutan, lain daripada itu; mengajak untuk mempersiapkan memberikan consensus tanggap akan situasi.

Kerena sejatinya perubahan akan realitas selalu bersifat memaksa. Belajar dari sejarawan; Mempelajari akan hal masa lalu bukanlah dalam rangka ingin mengulanginya, tetapi dalam rangka terbebaskan darinya. Jangan menangisi susu yang sudah tumpah atau telur yang telah pecah, ayok bangkit sejatinya masadepan masih suci. Hanya terngiang mendiang abang Hegel atas buah piker New Age.

“Mari lanjutkan pegang gawai mu, sruput kopi dan nyalakan sebatang surya ditangan,.. ekekek”

Penulis: Kom Rama

Komentar Sahabat/i :


©2017-2018 PMII Surabaya Selatan.