Website dalam tahap dikembangkan! Pantau perkembangannya klik disini Sahabat

Aku Rindu Diskusi dan Aksi!

Aku Rindu Diskusi dan Aksi! Facebook Twitter WhatsApp

Sedikit refleksi mengutip kalimat dari tokoh pidi baiq yang berbunyi, "Dulu nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan Mahasiswanya, sekarang mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya." Kalimat tersebut adalah sebuah tamparan keras bagi pegiat pergerakkan diera ini, kesakralan cap agent of change, agent of social control kali ini hanya sebagai pohon yang tak berbuah dan dengan semakin masifnya era perkembangan komunikasi, maka semakin menggebu pula gairah eksistensi tanpa ada ruang refleksi diri.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya sebagai penulis, tulisan ini dibuat atas dalih kurangnya rasa kepekaan gerakan sosial mahasiswa terhadap dinamika polemik publik yang saya rasakan saat ini, dilain sisi alasan saya beropini sebagaimana yang saya maksud diatas adalah sebatas dilema antara pemikiran dan jiwa saya yang semakin hari semakin menyeruak kusut melihat keadaan gerakan sekarang yang sangat pasif.

Sedikit banyak saya memandang kegiatan-kegiatan mahasiswa baik di dalam maupun di luar kampus yang serta merta hanya bertumpu kepada penyelesaian program-program kemahasiswaan belaka. Pemikiran jangka pendek dengan kata lain, jika program kemahasiswaan selesai, maka selesai lah sudah tugas kegiatan kegiatan kemahasiswaan tersebut. Seakan mereka hanya dituntut layaknya pekerja yang dikemas dalam berbagai unsur kepanitiaan dan mengesampingkan intelektualitas serta kepekaan sosial di tengah jerit tangis kesenjangan sosial. Mereka lupa akan sebuah makna jangka panjang gerakan sebagai wadah yang patut meningkatkan kepedulian sosial, moral, serta intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para mahasiswa yang terlibat di dalamnya.

Merawat ingat akan sebuah sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia yang telah dimulai jauh sebelum kemerdekaan. Boedi Oetomo salah satunya, adalah wadah perjuangan pertama di Indonesia yang memiliki struktur organisasi modern. Gerakan tersebut Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh mahasiswa lembaga pendidikan STOVIA. dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh sepiring hak kemerdekaan. Gerakan tersebut juga mendorong semangat juang mahasiswa dan rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, selebihnya untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan.

Jika bicara gerakan, maka tidak luput dengan pengabdian. Berangkat dari kata mengabdi berarti berani berbakti dan berjanji seutuhnya demi sebuah terciptanya sinergitas pergerakan yang sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi, yang dimana melingkupi (Pendidikan, pengabdian, dan penelitian). Subtansi pengabdian kepada masyarakat disini ialah dikemas dalam sebuah diskusi dan dibuktikan dengan sebuah aksi.

Sebagai Mahasiswa, memang tak luput dengan dua kata, yakni diskusi dan aksi. Dua kata yang terdengar relevan dibenak saya pada saat baru mengenal dunia perkuliahan dan yang salah satunya juga dikenal dengan kampus pergerakan. Namun realitasnya sekarang, 2 hal tersebut tak lagi relevan akibat sebuah dukungan pasifnya keadaan akibat pemikiran-pemikiran instan lokomotor gerakan yang lupa akan makna sejatinya pengabdian serta mahasiswa yang amnesia akan semangat juang sebagai cap agent of change dan agent of social control.

Sebagaimana mahasiswa yang diharapkan mampu merubah keadaan malah seakan-akan menutup mata dan telinga, membiarkan keadaan hanya menjadi bahan tontonan yang mungkin diantara mereka (mahasiswa) menganggapnya sebagai drama Korea. Mereka lupa cara menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pihak yang berwenang, mereka lupa cara diskusi dan aksi yang menjadikan mereka degradasi dari permukaan.

Sedangkan tekanan kebijakan rezim semakin hari semakin represif, mencari kambing hitam dan rakyat selalu dikebiri kan. Kemana taring mahasiswa saat ini? Apakah aku dididik menjadi agen kapitalis? Ada apa dengan diriku?
Apakah karena sistem birokrasi kampus ku yang melemahkan mental ku? Aku dan mereka tidak menyadari bahwa sistem birokrasi kampus mencoba membumihanguskan gerakan mahasiswanya, yang mana dikemas rapi dalam jam padatnya perkuliahan.

Ingat kawan! Sebenarnya itu bukan alasan. Beberapa pihak mungkin mencibir dan menyebut, bahwa mahasiswa seharusnya fokus pada kuliah saja, padahal anggapan tersebut sama sekali tidak benar. Justru dengan diskusi dan aksi kita dapat belajar berfikir demokratis yang menuntutnya kita untuk terus berfikir kritis dan dapat meningkatkan rasa kepedulian sosial.

Bayangkan kawan-kawan! Jika otak kita tidak lagi sudi dengan diskusi dan aksi, tentu pihak yang sengaja atau tidak disengaja melakukan kesalahan, tidak akan tahu bahwa kebijakan yang mereka buat dapat merugikan banyak orang, padahal dengan jelas sesuatu hal tersebut merupakan sebuah pembodohan. Maka, jika kita siap mengatasnamakan diri kita sebagai Mahasiswa, seharusnya kita harus berani berdiskusi dan langsung turun ke jalanan sebagai barisan langkah aksi.

Hemat saya sebagai penulis, aku rindu diskusi lalu aksi, rindu duduk melingkar membicarakan sebuah persoalan rakyat, karena diskusi membuatku berisi. Aku rindu aksi, aku rindu mengumumkan keadaan yang darurat. Aku rindu panas nya matahari yang mengetuk pintu mataku. Aku rindu bersama sama membela kebenaran dan melawan penindasan. Aku rindu atas segala tindakanmu kawan. Aku rindu teriakan
hidup mahasiswa! Hidup rakyat! Hidup orang yang tertindas! Hidup perempuan yang melawan! Ssalam Pergerakan!!

Penulis: Ssahabat Daffa
Editor: Wn

Komentar Sahabat/i :


©2017-2018 PMII Surabaya Selatan.